Thursday, November 3, 2016

Islam Nusantara yang bijak selalu ada didalam jiwa pagar nusa

Tags

Banyak orang yg bilang hari-hari belakangan ini bikin kita serba salah.
Diam dianggap ‘salah’ karena dituding tidak peduli agama, keimanan lemah, tidak memiliki ghirah, sok bijak, sok dewasa.
Sementara melakukan aksi dianggap ‘salah’ juga karena dianggap terlalu responsif, sumbu pendek, kurang tabayyun, kekanak-kanakan, tidak mencerminkan rahmatan lil ‘alamin.

Belum lagi jika dikaitkan dengan suasana politik menjelang pilkada menjadikan polemik ini makin kompleks dan runyam. Saling tuding antara pihak yg diam dan pihak yg beraksi menjadi aksi saling tuduh adanya keberpihakan pro versus  kontra. 
Lalu berlanjut saling hujat pada adanya bekingan versus adanya tunggangan.

https://gambarpagarnusa.blogspot.co.id
https://gambarpagarnusa.blogspot.co.id

Belum lagi jika nanti akhirnya terjadi ‘sesuatu’ dikemudian hari, yang akan belaku  pastilah jurus saling menyalahkan dan jurus mencari kambing hitam.
Sudah kebaca banget jalan ceritanya bukan?

Pada akhirnya siapa yg salah dan siapa yg benar masing-masing kita pun meragukannya.
Mirip kopi sianida, mana yg salah dan mana yg benar sama-sama blur.
Jangankan dilihat dari perspektif org lain wong kita lihat kelakuan kita sendiri saja kadang-kadang masih bimbang pada kebenaran yg kita anut kok hhhhh iy apa gak..

Nah, bagaimana jika sejenak kita mencoba memahami permasalah model begini:
“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]


Sungguh kita sesama muslim pada hakekatnya adalah satu tubuh. Tidak layak bagi tangan kanan kita menyalahkan tangan kiri ataupun sebaliknya.
Lalu hubungannya dengan konteks polemik yg sedang kita hadapi bisa disimak dalam analogi berikut ini.
Kita hidup bersama bermasyarakat di bumi Indonesia. 
Kita hidup bertetangga dalam kapling lahan masing-masing, ada kapling Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha. Selama ini kita hidup berdampingan dengan rukun, damai, saling menghormati dan saling menghargai.
Sampai suatu ketika Pak A ini sedang iseng jalan-jalan ke kapling lahan milik kami. Ndilalah, karena nggak ngerti medan dan nggak hati-hati akhirnya beliau terpeleset masuk jurang. 
Untungnya beliau jatuh belum terlalu dalam. 
Masih bisa tertolong. 
Dengan sigap kami pun bergegas menolongnya. Tangan kiri kami berpegang erat pada pohon besar dipinggir tebing (inilah kami muslim yang diam), sementara tangan kanan kami terjulur mencoba menggapai Pak A (inilah kami muslim yg beraksi).

Sementara orang diluar muslim hanya bisa memberikan support dan bantuan dari luar karena mereka sadar diri bahwa ini bukan wilayah teritorinya.
Sekarang masalahnya tinggal apakah Pak A bersedia menyambut uluran tangan kami apa gak???
Pelajaran yg bisa kita ambil dari sini adalah:

  • 1. Tidak layak bagi kita sesama muslim saling menyalahkan antara yg diam dan yg beraksi. Justru seharusnya kita saling berterimakasih. Yg beraksi berterimakasih pada yg diam karena dg adanya kontrol dari mereka membuat kita tidak ikut terjatuh dalam jurang kenistaan. Sebaliknya, yg diam berterimakasih pada yg beraksi karena dengan adanya mereka lah kita masih dianggap hidup dan bermanfaat bagi keselamatan sesama dan bukan hanya sekedar seonggok patung bisu. Ada baiknya energi yg terpakai untuk menghujat dialihkan menjadi energi untuk saling mendoakan.
  • 2. Bagi kalangan diluar muslim terimakasih untuk toleransi dan kesadarannya yg mana bersedia memahami bahwa polemik ini memang berada diluar teritorinya. Namum kekekhilafan seseorang tidak lantas mempengaruhi kerukunan kita dalam bersosial dan  bermasyarakat bukan?
  • 3. Bagi Pak A, besok lagi hati-hati kalo mau jalan-jalan ke lahan orang. Ada baiknya permisi dulu, minta dianterin sama yg punya lahan, dan berperilaku lah yg sopan dan beradab.
  • 4. Bagi kita semua menjadi pelajaran bersama akan pentingnya sikap saling menghormati dan toleransi.
  • 5. Seperti yg berulangkali saya katakan, apapun yg terjadi nanti segala ketetapanNya adalah sempurna, baik, benar dan telah sesuai dg garis takdir bangsa ini.
Dan kita semua berharap garis takdir yg tertulis itu tetaplah Indonesia yg aman, damai dan sejahtera.
Amiiin.

Pagar nusa bijak diam dan mencermati .. jaga energi untuk saling mendoakan untuk kerukunan bumi pertiwi
Tetaplah jaga kerukunan lintas agama.. 
NKRI HARGA MATI

1 komentar so far


EmoticonEmoticon