Friday, October 21, 2016

Dampak nyata pembebasan MOSUL

Tags

Indonesia, Malaysia dan Singapura, mengkhawatirkan efek operasi yang dilakukan oleh militer Irak untuk membebaskan Mosul dari cengkeraman kelompok Takfiri ISIS. Ketiga negara itu khawatir kepulangan elemen-elemen ISIS ke negara Asia Tenggara, khuausnya Indonesia.


Operasi militer Irak dan Hashd Shaabi untuk membebaskan Mosul dari kelompok Takfiri ISIS dimulai pekan ini setelah ISIS menduduki Mosul sejak 2014 lalu.
Sekitar 8.000 elemen ISIS lokal dan asing berada di Mosul, Irak utara.
Wakil Perdana Menteri yang juga Menteri Dalam Negeri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi, mengatakan pengamanan perbatasan dan bandara telah ditingkatkan.
”Kami bertukar informasi dengan badan-badan intelijen, dan kami memiliki daftar tersangka. Lembaga penegak hukum kami selalu siap tidak hanya di bandara tetapi juga di ‘terowongan tikus’,” kata Zahid Hamidi, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (20/10/2016).
Menteri Pertahanan Malaysia, Hishammuddin Hussein, pada hari Senin, mengatakan dirinya telah menginstruksikan militer untuk mengawasi setiap perkembangan di Irak dan Suriah. ”Karena kami khawatir bahwa (militan ISIS) mungkin datang ke sini dan itu tidak hanya berjumlah kecil,” ujarnya.
”Ini akan menjadi ribuan dari mereka. Inilah sebabnya mengapa penting bagi kita untuk memiliki hubungan trilateral dengan Indonesia dan Filipina. Kita perlu memastikan bahwa kita bisa mendapatkan data intelijen sebanyak mungkin untuk memperkuat dan melindungi wilayah kami,” ujar Hishammuddin seperti dikutip New Straits Times.
Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Singapura, Teo Chee Hean, mengatakan bahwa Singapura telah menggelar latihan anti-teror terbesar sebelum serangan Irak di Mosul. ”Peperangan (Mosul) itu kemungkinan untuk meningkatkan ancaman di wilayah kami,” ujarnya.
Sejak 2013, sekitar 90 warga Malaysia telah bergabung dengan kelompok Takfiri ISIS yang juga dikenal dengan nama Daesh dalam bahasa Arab.
Sementara itu, elemen ISIS asal Indonesia sejauh ini tidak ada angka resmi yang disebut oleh Pemerintah Presiden Joko Widodo. Namun, namun para ahli yang berbasis di Jakarta menyebut jumlahnya sekitar 500 orang.
”Saya pikir ini akan menjadi sebuah ancaman. Ketika para militan (ISIS) kembali ke negara-negara seperti Indonesia, Malaysia dan Filipina, mereka akan membangun semacam jaringan alumni, seperti para milisi dari Afghanistan hampir dua dekade lalu,” ujar Ridlwan Habib, seorang ahli kontraterorisme di Universitas Indonesia.
Ridlwan mengatakan, para militan ISIS itu kemungkinan pulang dengan strategi baru. ”Mereka akan memiliki eksposur dan pelatihan dalam hal-hal seperti cyberterrorism, dan serangan 'lone wolf' dengan persenjataan yang sangat lembut,” kata Ridlwan.
Sebelumnya pada 26 Maret 2015, Muhammad Ridwan Abdurrahman, anak Abu Jibril (Wakil Emir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI)), tewas di Suriah saat bergabung dengan kelompok Takfiri.
[IT/Onh/Ass]


EmoticonEmoticon