Tuesday, October 18, 2016

Dagelan seorang santri untuk negeri

Tags

Sentilan kecil buat mereka yang benci kerukunan antar agama dan etheis diindonesia ,Cerita singkat dirajuk oleh seorang santri muda dari Nahdlatul Ulama

Berawal dari cabgkruk an ngobrol bareng dan ngopi sama teman-teman beling didekat mushola..
Tidak ada angin tidaka da hujan tiba-tiba seorang pemuda berkata..

"Indonesiaku sempurna , tidak ada yang kurang dari Indonesia. Pernah terlahir seorang presiden proklamator, Bung Karno, yang luar biasa membanggakan. Pernah pula disuguhi presiden yang murah senyum, Pak Harto. Puncaknya saat negara mayoritas Muslim ini dianugerahi oleh allah presiden dari kalangan ulama/kiai yang negarawan yang kompetensinya luar biasa bahkan diakui dunia,siapa lagi klo bukan Gus Dur. Namun kenyataannya justeru hanya bertahan sangat singkat, digulingkan oleh orang Islam sendiri. "Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu (orang Islam) dustakan?" Ucap seorang pemuda Nahdliyin menyitir sepotong ayat al-Quran sembari mengisap sebatang rokoknya dalam-dalam

"Jadi wajar jika sekarang yang muncul justeru Ahok, orang kafir non-muslim, sebagai balasan atas kufur nikmat itu, ya Kang?" Seloroh pemuda di sebelahnya menanggapi.

"Semua ini alasannya cuma satu, gemar jual ayat demi kepentingan politik pribadinya!" Tegas kader muda NU itu.

"Sebenarnya Akang memihak yang mana sih, Ahok yang mengatakan dibodohi pakai ayat 51 surat al-Maidah atau para ulama dan umat muslim yang mengatakannya sebagai penistaan terhadap agama?"

Pemuda NU itu seketika mematikan rokoknya dan menatap serius ke arah penanya, "Saya berada di pihak Zakir Naik! Beliau seorang muslim idola banyak orang Islam. Kemana-mana yang dibacanya bukan saja ayat Al-Quran, tapi juga ayat Injil, Weda dan Taurat. Luar biasa!"

"Maksudnya, jika Ahok menyitir ayat al-Quran berarti tak masalah? Bukan penistaan agama? Menurut saya Sampean keliru Kang, karena Ahok kapasitasnya bukan sebagai ulama seperti Zakir Naik." Timpalnya.

Pemuda NU itu semakin serius sampai melototkan matanya lalu berteriak, "Apa kamu kira yang diperbuat Zakir Naik itu tidak ditiru oleh orang-orang Islam yang kapasitasnya setara dengan Ahok? Bahkan ditiru oleh kalangan yang awam ilmu agama!"

"Lha kok malah jadi bela Ahok sih Kang?"

Sembari berdiri, pemuda NU itu memungkasi, "Salah besar jika dikatakan saya membela Ahok! Apa kamu kira saat Gus Dur berusaha dilengserkan, saat Gus Dur dihina dan dicaci-maki, saat Gus Dur diusir dari forum diskusi, oleh beberapa oknum yang ngakunya ulama dan pengikut ulama tidak pakai ayat Al-Quran?! Tidak jauh beda seperti yang mereka lakukan sekarang terhadap Ahok! Sudahi dulu, saya mau ngimami shalat Maghrib."

Usai mengimami shalat Maghrib, pemuda NU itu mendapati si penanya sudah menunggu di depan dipan rumahnya. Tanpa basa-basi, ia katakan:

"Atheis dimusuhi karena tidak bertuhan. Bertuhan dimusuhi karena tuhannya beda. Tuhannya sama dimusuhi karena nabinya beda. Nabinya sama dimusuhi karena alirannya beda. Alirannya sama dimusuhi karena pendapatnya beda. Pendapatnya sama dimusuhi karena partainya beda. Partainya sama dimusuhi karena pendapatannya beda."

Pertanyaannya, "Sampean wis ngopi Kang...?"

1 komentar so far


EmoticonEmoticon