Wednesday, May 23, 2018

LAGU RESMI PAGAR NUSA

Salah satu identitas organisasi pagar nusa adalah Hymne atau Mars/Lagu kebesaran , dimana dalam setiap evant yang dilaksanakan lagu ini selalu akan terdengar disesi pembukaan dan penutup bersama lagu Yalalwaton dan lagu Indoesia Raya, sudahkan anda menjadi pesilat pagar nusa yang mengahafal lagu resmi pagar nusa ?

Download Mars Pagar Nusa | Infopagarnusa.com
Mars Pagar Nusa


Lagu Mars dan Hymne PSNU Pagar Nusa

PAGAR NUSA Pendekar Bangsa
Pagar Nusa Benteng Ulama
Lahir dari Nahdlatul Ulama
Untuk Agama Bangsa dan Negara

Derapkan langkah
Sikap sempurna
Budi pekerti
Jiwa yang suci
Menjunjung tinggi nilai suku bangsa
Berpegang teguh pada keyakinan Islam

#Reff

Lagilliba Illa Billah
Kami adalah pelindung bangsa
Lagilliba Illa Billah
Kami adalah kesatria
Lagilliba Illa Billah
Tiada yang dapat mengalahkan
Lagilliba Illa Billah
Kecuali pertolongan dari Allah

Untuk belajar menghafal mars pagar nusa dengan lirik dan lagunya bisa didownload pada YouTube

Download Mars Pagar Nusa Youtube


Terlebih untuk acara-acara penting kepagar nusa an lagu ini wajib dilantunkan

  • Pengetesan (UKT)
  • Acara Internal Pagar Nusa
  • Pengesahan (Pendadaran)
Semua anggota pagar nusa harus diwajibkan menghafal lagu pagar nusa, sebagai salah satu materi untuk syarat kelulusan sebagai pendekar sejati pagar nusa.



Tuesday, May 22, 2018

PD PRT PSNU PAGAR NUSA

Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga yang biasa disingkat PD/PRT merupakan landasan operasional dalam menjalankan suatu usaha atau organisasi. Di dalamnya terdapat visi, misi, tujuan, tugas pokok, sampai bidang usahanya termasuk kualifikasi apa dan siapa saja yang menanam saham serta berapa nominal saham yang ditanamkan. PD/PRT organisasi biasanya disyahkan oleh forum yang merupakan anggota organisasi.
PD PRT PAGAR NUSA | Infopagarnusa.com
PD PRT PAGAR NUSA

PD/PRT adalah dasar dan peraturan yang mengikat seseorang atau kelompok dalam berbagai kegiatan atau program yang mereka lakukan atau yang akan di kerjakan. PD (Peraturan Dasar) selalu berisikan pasal-pasal umum mengenai yang mengatur roda sebuah organisasi. Seperti ideologi, tata cara pemilihan, sumber dana dan lain-lain. Intinya mirip seperti Undang-undang Dasar

Sedagkan PRT (Peraturan Rumah Tangga) itu berfungsi seperti petunjuk teknis atau penjelasan lebih rinci dari PD (PD biasanya lebih tataran abstrak dan general) dan disajikan juga dalam bentuk pasal-pasal.

Apa gunanya PD/PRT dibuat untuk suatu badan usaha atau organisasi yang hendak dijalankan.? Jawabannya tentu saja berguna, karena itu bisa sebagai landasan kerja organisasi serta bisa juga sebagai security kita dalam bekerja, agar kinerja kita terarah sesuai dengan landasan.

Untuk PD PRT PSNU Pagar Nusa Bisa dipesan dengan menyertakan beberapa persyaratan diawah ini

  • KTP
  • KTA PAGAR NUSA
  • SERTIFIKATE
  • FOTO SISWA dan Pengukuhan
  • PC dan PAC/Ranting


Jika link mengalami kerusakan silahkan Contact Admin Dibawah ini
Imanata1986@gmail.com [ Admin1 ] - [ Admin2 ]

Friday, May 11, 2018

Beasiswa SMP dan SMA PP Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang

Pendidikan adalah tongkak utama untuk melahirkan generasi-generasi handal dan bermental, dengan pendidikkan maka akan terlahir manusia yang bisa bertanggung jawab , cerdas dan berbudi , bagi adek-adek semua yang ingin melanjutkan pendidikan sekaligus nyantren , Pondok pesantren Bahrul Ulum membuka kesempatan untuk kamu melanjutkan pendidikan kejenjang lebih tinggi melalui jalur Beasiswa
Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang | infopagarnusa.com
Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang

WORO - WORO BEASISWA
SMP & SMA
PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM
Tambakberas Jombang-Jawa Timur

Sekolah yang memadukan  efektifitas dan kualitas kurikulum Pendidikan Pesantren dan Umum Untuk mencetak Generasi Madani dan Berkarakter Islami.
KURIKULUM TERPADU
📖Tahfidz
🌠Language Development (Arab dan Inggris)
📔Bimbingan Kitab
🌟Sains Corner
Bagi putra-i Indonesia untuk masa depan berkualitas dan ber Akhlak
PROGRAM BEASISWA
🎓Beasiswa Prestasi
📚Beasiswa Tahfidz
💰Beasiswa Dhuafa
Majelis Pengasuh: Dr. KH. M. Hasib Wahab (Ketua PBNU) 
INFORMASI & PENDAFTARAN
0821-2341-9999 (WA)
0857-7272-9999 (HP)
📢Mohon dibantu share siapa tahu ada yang membutuhkan semoga menjadi amal baik Anda.

Thursday, May 10, 2018

Masyarakat Lintas Agama Gelar Doa Bersama Dimako Brimom

Dikutip dari laman resmi Liputan6 - Sejumlah masyarakat dari berbagai elemen menggelar doa bersama dan aksi solidaritas di depan Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Kamis malam. 

Aksi Lintas agama untuk bangsa dan negara
Kegiatan itu dilakukan untuk memberikan penghormatan kepada lima anggota Polri yang gugur dalam kerusuhan di Rutan Salemba cabang Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, yang terjadi pada selasa 8 Mei malam lalu.


Indonesia sedang berduka kehilangan putra-putra terbaik bangsa. #KamiBersamaPOLRI", tulis spanduk yang dijadikan sebagai latar acara.  Sejumlah Tokoh masyarakat dari berbagai kalangan ikut serta dalam acara tersebut terkhusus para tokoh lintas agama

Acara diawali dengan membagi-bagikan bunga mawar merah dan putih. Dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Gugur Bunga, dan Indonesia Pusaka yang dipimpin oleh Joy Tobing. "Siapa pun yang mengutuk aksi terorisme, duduk berkumpul berdoa bersama di sini," ujar Maman. Doa kemudian dipimpin oleh Maman dan beberapa tokoh lintas agama lainnya. 

Disaat seperti ini kami Pagar nusa akan selalu siap dan waspada untuk ikut serta dalam menjaga dan mengamankan situasi dimasyarakat, peran kami sekecil apapun semoga bisa memberikan rasa aman bagi semuanya,

Doa dan ucapan belasungkawa mendalam kami para pesilat pagar nusa terhadap korban beserta keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan serta rasa besar hati untuk mengihklaskan semuanya.

Penyerangan 156 Napi Teroris Dimako Brimom Depok

Jika diurutkan secara singkat, kronologinya kira-kira seperti ini;
Kronologi Satu
Sebanyak 156 orang napi teroris mendadak melakukan perlawanan. Menyerang para petugas yang kebetulan tidak sedang bersenjata, menyandera 6 polisi yang gagal menyelamatkan diri, dan menjebol ruang penyimpanan senjata. Aksi ini pasti sudah dirancang dengan sangat matang karena mereka tahu benar seluk beluk ruangan di situ dan situasi kesehariannya.

Kerusuhan Napi Teroris Dimako Brimom | Infopagarnusa.com
Kerusuhan Napi Teroris Dimako Brimom
Kronologi Dua
Dalam pergolakan itu seorang Napiter tewas tertembak petugas, seorang lagi terluka dan belum jelas kabar terakhirnya. Para polisi yang jadi sandera disiksa oleh para napiter, digorok lehernya dan ditembak hingga tewas, hanya disisakan satu orang untuk modal negosiasi. 






Kronologi Tiga
Lewat HP yang berhasil mereka sita dari petugas, mereka koordinasi dengan jaringan di luar rutan. Sejumlah simpatisan pun berkumpul di sekitar mako Brimob, bersiap untuk ikut menyerbu dari luar. Tinggal tunggu komando. Lihat screenshot WAG mereka di sini.

Kronologi Empat
Proses negosiasi dengan aparat tidak terlalu sulit. Tawanan mereka lepaskan agar bisa ditukar dengan makanan. Jangankan siap mati, siap lapar saja mereka ternyata tidak sanggup. 

Kronologi Lima
Setelah itu aparat memberi ultimatum; Mereka menyerah tanpa syarat atau siap bertempur sampai mati. Sebanyak 145 napiter ternyata belum siap mati syahid. Mereka berbondong-bondong menyerah tanpa syarat. Masih tersisa 10 orang yang bertekad untuk bertempur habis-habisan hingga tetes darah terakhir. Setidaknya mereka memegang puluhan pucuk senjata mulai laras pendek, laras panjang hingga senapan mesin dan ratusan amunisi. 

Kronologi Enam
Batas waktu ultimatum telah habis. Aparat membuka serangan dengan empat ledakan gas airmata dan flashbang. Hanya dengan serangan pembuka tadi para jihadis itu langsung menjerit minta damai. Untuk para pelaku, kami sangat kecewa. Cara kalian terkencing-kencing takut mati sangat tidak sesuai dengan gaya kalian saat menyiksa dan menggoroki leher para tawanan. Kami kecewa, ternyata kalian tidak benar-benar berani mati dan merindukan 72 bidadari surga. Sangat tidak sesuai dengan apa yang selama ini kalian gembar gemborkan di medsos. Terakhir; kami kecewa, karena setelah tindakan iblis yang kalian lakukan itu, lantas terkencing-kencing minta ampun, kalian masih diperlakukan dengan manusiawi.

Wednesday, May 9, 2018

5 Versi berbeda Misteri Kematian Syeikh Siti Jenar

Versi Pertama
Mengacu pada “Serat Syeikh Siti Jenar” Ki Sosrowidjojo, disebutkan bahwa Syekh Siti Jenar mangkat akibat dihukum mati oleh Sultan Demak, Raden Fatah atas persetujuan Dewan Wali Songo yang dipimpin oleh Sunan Bonang. Bertindak sebagai algojo atau pelaksana hukuman pancung itu adalah Sunan Kalijaga dan Eksekusi berlangsung di alun-alun kesultanan Demak.

5 Versi berbeda Misteri Kematian Syeikh Siti Jenar | Infopagarnusa.com
5 Versi berbeda Misteri Kematian Syeikh Siti Jenar

Versi Kedua
Sebagaimana tercantum dalam Wawacan Sunan Gunung Jati Pupuh ke-39 terbitan Emon Suryaatmana dan T.D Sudjana (alih bahasa pada tahun 1994), Syekh Siti Jenar dijatuhi hukuman mati oleh Sunan Gunung Jati. Pelaksana hukuman atau algojonya tak lain adalah Sunan Gunung Jati sendiri, dengan tempat eksekusi di Masjid Ciptarasa Cirebon. Mayat Syekh Siti Jenar dimandikan oleh Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Giri, kemudian dimakamkan di Graksan, yang kemudian disebut sebagai Pasarean Kemlaten. Merujuk pada versi Pertama, Sudirman Tebba (2000: 41), menyebutkan secara lebih detail prosesi eksekusi Syekh Siti Jenar saat dipenggal lehernya oleh Sunan Kalijaga.

Pada awalnya mengucur darah berwarna merah, kemudian berubah menjadi putih. Saat itulah Syekh Siti Jenar berkata: “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya”. Kemudian tubuh Syekh Siti Jenar naik ke surga seiring dengan kata-kata: ”Jika ada seorang manusia yang percaya kepada kesatuan selain dari Allah Yang Mahakuasa, dia akan kecewa, karena dia tidak akan memperoleh apa yang dia inginkan”.

Untuk kisah yang terdapat dalam versi pertama dan kedua masih memiliki kelanjutan yang hampir sama. Sebagaimana dikemukakan dalam Suluk Syekh Siti Jenar, disebutkan bahwa setelah Syekh Siti Jenar meninggal di Krendhawasa tahun Nirjamna Catur Tunggal (1480 M. Tahun yang tentu saja masih terlalu dini untuk kematian Syekh Siti Jenar), jenazahnya dibawa ke Masjid Demak.

Karena saat itu magrib tiba, maka pemakaman dilakukan esok paginya agar bisa disaksikan oleh raja. Para ulama sepakat untuk menjaga jenazah Syekh Siti Jenar sambil melafalkan puji-pujian kepada Tuhan. Ketika waktu shalat tiba, para santri berdatangan ke masjid. Pada saat itu tiba-tiba tercium bau yang sangat harum, seperti bau bunga Kasturi. Selesai shalat para santri diperintahkan untuk meninggalkan masjid. 

Tinggal para ulama saja yang tetap berada di dalamnya untuk menjaga jenazah Syekh Siti Jenar. Bau harum terus menyengat, oleh karena itu Syekh Malaya mengajak ulama lainnya untuk membuka peti jenazah Syekh Siti Jenar. Tatkala peti itu terbuka, jenazah Syekh Siti Jenar memancarkan cahaya yang sangat indah, lalu muncul warna pelangi memenuhi ruangan masjid. 

Sedangkan dari bawah peti memancarkan sinar yang amat terang, bagaikan siang hari. Dengan gugup, para ulama mendudukkan jenazah itu, lalu bersembah sujud sambil menciumi tubuh tanpa nyawa itu bergantian hingga ujung jari. Saat jenazah kembali dimasukkan ke dalam peti, Syekh Malaya terlihat tidak berkenan atas tindakan rekan-rekannya itu.

Sedangkan dalam Suluk Syekh Siti Jenar dan Suluk Walisongo dikisahkan bahwa para ulama telah berbuat curang. Jenazah Syekh Siti Jenar diganti dengan bangkai anjing kudisan. Jenazah itu pun mereka makamkan di tempat yang dirahasiakan. Peti jenazah diisi dengan bangkai anjing kudisan. Bangkai itu dipertontonkan keesokan harinya kepada masyarakat untuk mengisyaratkan bahwa ajaran Syekh Siti Jenar adalah sesat. 

Digantinya jenazah Syekh Siti Jenar dengan bangkai anjing ini ternyata diketahui oleh salah seorang muridnya yang bernama Ki Luntang. Dia datang ke Demak untuk menuntut balas. Maka terjadilah perdebatan sengit antara Ki Luntang dengan para Wali yang berakhir dengan kematiannya. Sebelum mati, Ki Luntang menyindir kelicikan para Wali dengan mengatakan 

(Sofwan, 2000: 221): “…luh ta payo totonen derengsun manthuk, yen wus mulih salinen, bangke sakarepmu dadi. Khadal, kodok, rase, luwak, kucing kuwuk kang gampang lehmu sandi, upaya sadhela entuk, wangsul sinantun gajah, sun pastheake sira nora bisa luruh reh tanah Jawa tan ana…” Artinya " nah silahkan lihat diriku yang hendak menjemput kematian. Jika nanti aku telah mati, kau boleh mengganti jasadku sekehendakmu; (dengan) kadal, kodok, rase, luwak atau kucing tua yang mudah kau peroleh. Tapi, jika hendak mengganti dengan gajah, kau pasti tidak akan bisa karena di tanah Jawa tidak ada”

Seperti halnya sang guru, Ki Luntang pun mati atas kehendaknya sendiri, berkonsentrasi untuk menutup jalan hidup menuju pintu kematian

Versi Ketiga
Seperti disebutkan (Hasyim, 1987: 47), bahwa Syekh Siti Jenar meninggal karena dijatuhi hukuman mati oleh Sunan Giri, dan algojo pelaksana hukuman mati tersebut adalah Sunan Gunung Jati. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa vonis yang diberikan Sunan Giri atas usulan Sunan Kalijaga.

Dikisahkan juga bahwa Syekh Siti Jenar mempunyai sebuah pesantren yang banyak muridnya. Namun sayang, ajaran-ajarannya dipandang sesat dan keluar dari ajaran Islam. Ia mengajarkan tentang keselarasan antara Tuhan, manusia dan alam (Hariwijaya, 2006: 41-42).

Hubungan manusia dengan Tuhannya diungkapkan dengan “Manunggaling kawula-gusti” dan “Curiga Manjing Warangka”. Hubungan manusia dengan alam diungkapkan dengan “Mengasah Mingising Budi, Memasuh Malaning Bumi”, dan “Hamemayu Hayuning Bawana”, yang bermuara pada pembentukan “Jalma Sulaksana”, “Al-insan Al-kamil”, “Sarira Bathara”, “Manusia Paripurna”, “Adi Manusia” yang imbang lahir-batin, jiwa-raga, intelektual-spiritual, dan kepala-dadanya. 

Konsep Manunggaling kawula-gusti oleh Syekh Siti Jenar disebut dengan “uninong aning unong”, saat sepi senyap, hening, dan kosong.  Sesungguhnya Zat Tuhan dan zat manusia adalah satu, manusia ada dalam Tuhan dan Tuhan ada dalam manusia. 

Sunan Giri sebagai ketua persidangan, setelah mendengar penjelasan dari berbagai pihak dan bermusyawarah dengan para Wali, memutuskan bahwa ajaran Syekh Siti Jenar itu sesat. Ajarannya bisa merusak moral masyarakat yang baru saja mengenal Islam. Karenanya Syekh Siti Jenar dijatuhi hukuman mati. 

Meski demikian, Syekh Siti Jenar masih diberi kesempatan selama setahun untuk memperbaiki kesalahannya sekaligus menanti berdirinya Negara Demak secara formal, karena yang berhak menentukan hukuman adalah pihak negara (Widji saksono, 1995: 61). 

Kalau sampai waktu yang ditentukan ia tidak mengubah pendiriannya, maka hukuman tersebut akan dilaksanakan. Sejak saat itu, pesantren Syekh Siti Jenar ditutup dan murid-muridnya pun bubar, menyembunyikan diri dan sebagian masih mengajarkan ajaran WahdatulWujud meskipun secara sembunyi-sembunyi. Setelah satu tahun berlalu, Syekh Siti Jenar ternyata tidak mengubah pendiriannya. Maka dengan terpaksa Sunan Gunung Jati melaksanakan eksekusi yang telah disepakati dulu.  Jenazah Syekh Siti Jenar pun dimakamkan di lingkungan keraton agar orang-orang tidak memujinya. 

Versi Keempat
Sebagaimana yang dikisahkan dalam Babad Demak, menyebut Syekh Siti Jenar wafat karena vonis hukuman mati yang dijatuhkan Sunan Giri sendiri. Menurut babad ini, Syekh Siti Jenar meninggal bukan karena kemauannya sendiri, atau dengan kesaktiannya dia dapat menemui ajalnya, melainkan karena dibunuh oleh Sunan Giri. Keris ditusukkan hingga tembus ke punggung dan mengucurkan darah berwarna kuning.
Setelah mengetahui bahwa suaminya dibunuh, istri Syekh Siti Jenar menuntut bela kematian itu kepada Sunan Giri. Sunan Giri menghiburnya dengan mengatakan bahwa bukan dia yang membunuh Syekh Siti Jenar tetapi suaminya itu mati atas kemauannya sendiri. 

Diberitahukan juga bahwa Syekh Siti Jenar kini berada di dalam surga. Sunan Giri meminta dia melihat ke atas dan di sana dia melihat suaminya berada di surga dikelilingi bidadari yang agung, duduk di singgasana yang berkilauan (Sofwan, 2000: 218).

Kematian Syekh Siti Jenar dalam versi ini juga dikemukakan dalam Babad Tanah Jawa yang disadur oleh S. Santoso, dengan versi sedikit berbeda. Dalam babad ini disebutkan bahwa Syekh Siti Jenar terbang ke surga, tetapi badannya kembali ke masjid. 

Para ulama takjub karena dia dapat terbang ke surga, namun kemudian marah karena badannya kembali ke masjid. Melihat hal yang demikian, Sunan Giri kemudian mengatakan bahwa tubuhnya harus ditikam dengan sebuah pedang, kemudian dibakar. Syekh Maulana kemudian mengambil pedang dan menikamkannya ke tubuh Syekh Siti Jenar, tetapi tidak mempan. Syekh Maulana bertambah marah dan menuduh Syekh Siti Jenar berbohong atas pernyataannya yang menegaskan bahwa dia rela mati.
Syekh Siti Jenar menerima banyak tikaman dari Syekh Maulana, tetapi dia terus berdiri. Syekh Maulana kian gusar dan berkata, “Itu luka orang jahat, terluka tapi tidak berdarah”. 

Dari luka-luka Syekh Siti Jenar itu seketika keluar darah berwarna merah. Syekh Maulana berkata lagi, ”Itu luka orang biasa, bukan kawula gusti, karena darah yang keluar berwarna merah”. Dari merah yang mengucur itu seketika berubah berwarna putih. Syekh Maulana berkata lagi. “Ini seperti kematian pohon kayu, keluar getah dari lukanya. Kalau ‘insan kamil’ betul tentu dapat masuk surga dengan badan jasmaninya, berarti kawula gusti tidak terpisah”. 

Dalam sekejap mata, tubuh Syekh Siti Jenar pun hilang dan darahnya sirna. Syekh Maulana kemudian membuat muslihat dengan membunuh seekor anjing, membungkusnya dengan kain putih dan mengumumkan kepada masyarakat bahwa mayat Syekh Siti Jenar telah berubah menjadi seekor anjing disebabkan ajarannya yang bertentangan dengan syariat. Anjing itulah yang kemudian dibakar.  

Beberapa waktu setelah peristiwa itu, para ulama didatangi oleh seorang penggembala kambing yang mengaku sebagai murid Syekh Siti Jenar. Dia berkata, ”Saya dengar para Wali telah membunuh guru saya, Syekh Siti Jenar. Kalau memang demikian, lebih baik saya juga Tuan-tuan bunuh. Sebab saya ini juga Allah, Allah yang menggembalakan kambing”. 

Mendengar penuturannya itu kemudian Syekh Maulana membunuhnya dengan pedang yang sama dengan yang digunakan untuk membunuh Syekh Siti Jenar. Seketika tubuh mayat penggembala kambing itu pun lenyap. (Tebba, 2003: 43).

Versi Kelima
Seperti tercatat dalam Serat Negara Kertabumi yang disunting oleh Rahman Selendraningrat, disebutkan bahwa vonis hukuman mati terhadap Syekh Siti Jenar dijatuhkan oleh Sunan Gunung Jati, sedangkan yang menjalankan eksekusi atau algojonya adalah Sunan Kudus. Kisah eksekusi terhadap Syekh Siti Jenar yang terdapat dalam versi ini berbeda dari yang lain, karena ditengarai telah bercampur aduk dengan kisah eksekusi Ki Ageng Pengging yang dilakukan oleh Sunan Kudus. Kisah kematian Syekh Siti Jenar dalam sastra “Kacirebonan” ini diawali dengan memperlihatkan posisi para pengikut Syekh Siti Jenar di Cirebon sebagai kelompok oposisi atas kekuatan Kesultanan Cirebon. 

Sejumlah tokoh pengikutnya pernah berusaha untuk menduduki tahta, tetapi semuanya menemui kegagalan. Tatkala Pengging dilumpuhkan, Syekh Siti Jenar yang pada saat itu menyebarkan agama di sana, kembali ke Cirebon diikuti oleh para muridnya dari Pengging. Di Cirebon, kekuatan Syekh Siti Jenar menjadi semakin kokoh, pengikutnya meluas hingga ke desa-desa. Setelah Syekh Datuk Kahfi meninggal dunia, Sultan Cirebon menunjuk Pangeran Punjungan untuk menjadi guru agama Islam di Padepokan Amparan Jati. Pangeran Punjungan bersedia menjalankan tugas yang diembankan Sultan kepadanya, namun dia tidak mendapatkan murid di sana karena orang-orang telah menjadi murid Syekh Siti Jenar. 

Bahkan panglima bala tentara Cirebon bernama Pangeran Carbon lebih memilih untuk menjadi murid Syekh Siti Jenar. Dijaga oleh muridnya yang banyak, Syekh Siti Jenar merasa aman tinggal di Cirebon Girang. Keberadaan Syekh Siti Jenar di Cirebon terdengar oleh Sultan Demak. Sultan kemudian mengutus Sunan Kudus disertai 700 orang prajurit ke Cirebon. Sultan Cirebon menerima permintaan Sultan Demak dengan tulus, bahkan memberi bantuan untuk tujuan itu. Langkah pertama yang diambil Sultan Cirebon adalah mengumpulkan para murid Syekh Siti Jenar yang ternama, antara lain Pangeran Carbon, para Kyai Geng, Ki Palumba, Dipati Cangkuang dan banyak orang lain di istana Pangkuangwati. 

Selanjutnya bala tentara Cirebon dan Demak menuju padepokan Syekh Siti Jenar di Cirebon Girang. Syekh Siti Jenar kemudian di bawa ke masjid Agung Cirebon, tempat para Wali telah berkumpul. Dalam persidangan itu, yang bertindak sebagai Hakim Ketua adalah Sunan Gunung Jati. Melalui perdebatan yang panjang, pengadilan memutuskan Syekh Siti Jenar harus dihukum mati. Kemudian Sunan Kudus melaksanakan eksekusi itu menggunakan keris pusaka Sunan Gunung Jati. Peristiwa itu terjadi pada bulan Safar 923 H atau 1506 (Sofwan, 2000: 222). 

Pada peristiwa selanjutnya, mulai diperlihatkan kecurangan yang dilakukan oleh para ulama di Cirebon terhadap keberadaan jenazah Syekh Siti Jenar. Dikisahkan, setelah eksekusi dilaksanakan, jenazah Syekh Siti Jenar dimakamkan di suatu tempat yang kemudian banyak diziarahi orang. Untuk mengamankan keadaan, Sunan Gunung Jati memerintahkan secara diam-diam agar mayat Syekh Siti Jenar dipindahkan ke tempat yang dirahasiakan, sedangkan di kuburan yang sering dikunjungi orang itu dimasukkan bangkai anjing hitam. Ketika para peziarah menginginkan agar mayat Syekh Siti Jenar dipindahkan ke Jawa Timur, kuburan dibuka dan ternyata yang tergeletak di dalamnya bukan mayat Syekh Siti Jenar melainkan bangkai seekor anjing. 

Para peziarah terkejut dan tak bisa mengerti keadaan itu. Ketika itu Sultan Cirebon memanfaatkan situasi dengan mengeluarkan fatwa agar orang-orang tidak menziarahi bangkai anjing dan segera meninggalkan ajaran-ajaran Syekh Siti Jenar (Sulendraningrat, 1983: 28).

3 Ajaran Populer Syekh Siti Jenar.

Ada banyak Karya (Pupuh) populer dari Syekh Siti Jenar diantaranya ada tiga yaitu konsep ajaran tentang Manunggaling Kawulo Gusti ,Zadhab dan Hamamayu Hayuning Bawana. Untuk konsep ajaran Mnunggaling Kawulo Gusti konsep dan ajarnnya bisa dibaca selengkapnya disini " Konsep dan Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti"

3 Ajaran Populer Syekh Siti Jenar. | Infopagarnusa.com
3 Ajaran Populer Syekh Siti Jenar.
Pengertian Zadhab
Dalam kondisi manusia modern seperti saat ini sering temui manusia yang mengalami hal ini terutama dalam agama Islam yang sering disebut zadhab atau kegilaan berlebihan terhadap Illa yang maha Agung atau Allah. Mereka belajar tentang bagaimana Allah bekerja, sehingga ketika keinginannya sudah lebur terhadap kehendak Allah, maka yang ada dalam pikirannya hanya Allah, Allah, Allah dan Allah…. disekelilingnya tidak tampak manusia lain tapi hanya Allah yang berkehendak, Setiap Kejadian adalah maksud Allah terhadap Hamba ini…. dan inilah yang dibahayakan karena apabila tidak ada GURU yang Mursyid yang berpedoman pada AlQuran dan Hadits maka hamba ini akan keluar dari semua aturan yang telah ditetapkan Allah untuk manusia.

Karena hamba ini akan gampang terpengaruh syaitan, semakin tinggi tingkat keimanannya maka semakin tinggi juga Syaitan menjerumuskannya.

Seperti contohnya Lia Eden dll… mereka adalah hamba yang ingin dekat dengan Allah tanpa pembimbing yang telah melewati masa ini, karena apabila telah melewati masa ini maka hamba tersebut harus turun agar bisa mengajarkan yang HAK kepada manusia lain seperti juga Rasullah pun telah melewati masa ini dan apabila manusia tidak mau turun tingkatan maka hamba ini akan menjadi seperti nabi Isa AS. Maka Nabi ISA diangkat Allah beserta jasadnya. 

Seperti juga Syekh Siti Jenar yang kematiannya menjadi kontroversi.Dalam masyarakat jawa kematian ini disebut “MUKSO” ruh beserta jasadnya diangkat Allah

Hamamayu Hayuning Bawana
Prinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil alamin. Seorang dianggap muslim, salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya dan bukannya menciptakan kerusakan di bumi.